1174010078 – INDAH PRADINA
JURNAL KONSELING
Foolastri, Sisca. (2013). Perbedaan Keterampilan Belajar Siswa Berprestasi Tinggi Dan Berprestasi Rendah Serta Implikasinya Dalam Bimbingan Dan Konseling: Jurnal Konseling Vol. 2 No.1.
Identifiasi masalah dalam jurnal ini menunjukan bahwa berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada dua orang guru pada tanggal 3 Mei 2012 di SMA Negeri 1 Padang yang berakreditasi A, kemudian kepada tiga orang guru pada tanggal 5 Mei 2012 di SMA Negeri 13 Padang yang berakreditasi B , dan kepada tiga orang guru pada tanggal 9 Mei 2012 di SMA Negeri 16 Padang dengan Akreditasi C, terungkap bahwa siswa berprestasi tinggi dan rendah memiliki keterampilan belajar yang berbeda. Masing-masing siswa memiliki keterampilan yang berbeda-beda seperti dalam hal bertanya siswa berprestasi tinggi memiliki semangat dan percaya diri, pertanyaan yang diajukan bagus dan berkualitas, selain itu siswa tersebut juga berani bertanya/ mengemukakan pendapat,sedangkan siswa yang berprestasi rendah mempunyai kesulitan untuk berpendapat, dan terkadang pertanyaan/pendapat yang diajukan tidak tepat dan keluar dari pokok bahasan.
Tujuan dari diadakannya penelitian ini untuk mendeskripsikan perbedaan keterampilan belajar siswa berprestasi tinggi dan berprestasi rendah di SMA Negeri Kota Padang (akreditasi sekolah A, B dan C). Maka dari itu penelitian hanya dilakukan kepada siswa yang berprestasi tinggi peringkat tiga tertinggi dan siswa berprestasi rendah peringkat tiga terendah yang dijadikan anggota sampel yaitu sebanyak 120 orang.
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif yaitu penelitian yang mengungkapkan dan menggambarkan apa adanya dan membandingkan (komparatif) mengenai keterampilan belajar siswa berprestasi tinggi dan keterampilan belajar siswa berprestasi rendah di SMA Negeri Kota Padang. Adapun teknik penarikan sampel yaitu dengan purposive sampling. Sedangkan Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket/kuesioner tertutup. Data yang telah terkumpul dianalisis secara sistematis dalam bentuk deskriptif, dan dianalisis secara statiktik dengan menggunakan teknik t-test.
Variabel yang digunakan dalam jurnal ini adalan variabel independen yang tergambar dalam judul yaitu ´´Keterampilan belajar antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi``. Varibel tersebut mempengaruhi variabel dipenden yang tercermin dalam judul yaitu ``Perbedaan keterampilan belajar``.
Berdasarkan jurnal tersebut hasil temuan penelitian mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan belajar siswa berprestasi tinggi dan siswa berprestasi rendah di SMA Negeri Kota Padang. Perbedaan ini dapat dilihat dari sub variabel keterampilan mengikuti pelajaran siswa berprestasi tinggi dan rendah, persentase yang cenderung tinggi ditempati siswa berprestasi tinggi. Keterampilan mengikuti pelajaran seorang siswa dianggap baik apabila ia memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap proses belajarnya. Sikap dan pandangan positif tersebut dapat mempengaruhi kegairahan, kemauan, keinginan, ketertarikan, dan aktifitas siswa berkenaan dengan pelajaran yang diikutinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Prayitno, dkk (2002:1) agar kegiatan menjalani proses belajar berlangsung secara efektif, siswa perlu memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap belajar yang diikutinya. Senada dengan pernyataan tersebut menurut Slameto (2010:76) belajar yang efisien dapat dicapai apabila menggunakan strategi belajar yang tepat untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Kemudian diperlukan juga keterampilan khusus untuk kegiatan mencatat. Menurut Gie (1995:23) pembacaan buku yang dilakukan siswa kebanyakan akan menjadi sia-sia kalau ia tidak membuat catatan-catatan dari bahan bacaannya, karena pikiran tidak dapat seketika mengingat begitu banyak butir pengetahuan tanpa berulang-ulang menghafalnya. Untuk mencatat hasil bacaan dengan ringkas dan menyeluruh dapat dilakukan dengan teknik peta pikiran. Hal ini sesuai dengan pendapat Das dan Elfi (2004:46) bahwa keunggulan dari peta pikiran adalah : (1) dapat menangkap seluruh konsep, (2) dapat menyusun bahan dan informasi secara praktis, (3) dapat memperlihatkan hubungan konsep dan gagasan, (4) dapat megingat kembali dengan mudah, dan (5) merangsang kreatifitas. Jadi, dalam proses pembelajaran siswa hendaknya memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap belajarnya sehingga akan mendorong siswa untuk mencintai pelajaran yang diikutinya, membawa kesuksesan dan kemajuan hasil belajar yang diharapkan.
Berdasarkan jurnal tersebut kesimpulan yang didapatkan adalah keterampilan belajar siswa berprestasi tinggi di SMA Negeri Kota Padang tergolong pada kategori baik. Masing-masing sub variabel yang dikemukakan dalam penelitian ini berada pada kategori baik yaitu keterampilan mengikuti pelajaran, keterampilan bertanya, keterampilan mencatat, keterampilan konsentrasi, keterampilan membaca, keterampilan penyusunan dan penyelesaian tugas. Sedangkan keterampilan belajar siswa berprestasi rendah di SMA Negeri Kota Padang berada pada kategori baik. Dilihat dari masing-masing sub variabel yaitu keterampilan mengikuti pelajaran, keterampilan bertanya, keterampilan mencatat, keterampilan konsentrasi, keterampilan penyusunan dan penyelesaian tugas berada pada kategori baik, namun keterampilan membaca dan keterampilan bertanya berada pada kategori cukup.
Berdasarkan apa yang telah dibaca anoter dalam jurnal tersebut antara siswa yang berprestasi rendah dan tinggi memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan keduanya baik dalam beberapa kegiatan namun untuk siswa yang berprestasi rendah mereka cenderung kurang baik dalam membaca dan bertanya. Mereka yang berprestasi rendah memiliki sedikit kemauan untuk membaca dan bertanya. Selain itu mereka cenderung tidak percaya diri dan mereka lebih mendahulukan berprasangka buruk daripada mencoba untuk bertanya. Adapun hambatan lainnya yaitu menurut Rosmawaty (2013 : 56 - 57) hambatan – hambatan yang akan terjadi ketika komunikasi diantaranya yaitu sifat yang egosentris, prasangka, hambatan dalam bahasa dan tidak adanya sikap keterbukaan. Adapun menurut Effendy (1993:47- 48) ia berpendapat bahwa beberapa hambatan yang terjadi dalam komunikasi diantaranya adalah prasangka dan motivasi terpendam. Dan disinalah peran Guru BK yaitu harus terus meningkatkan dan mengembangkan layanan bimbingan dan konseling dalam bidang keterampilan belajar, seperti memberikan layanan informasi, layanan penguasaan konten dan layanan bimbingan kelompok yang terkait dengan keterampilan belajar. Kemudian seharusnya Guru mata pelajaran selalu memperhatikan siswa yang memiliki keterampilan belajar yang kurang baik dan menggunakan metode yang dapat mengarahkan siswa untuk belajar dengan efektif yang dapat mengembangkan potensi yang dimiliki siswa terkait dengan keterampilan belajarnya supaya siswa terlatih untuk terampil dalam belajar seperti terampil dalam bertanya, membaca, mencatat, konsentrasi dalam belajar, terampil dalam penyelesaian tugas.
DAFTAR PUSTAKA
Folastri, Sisca. (2013). Perbedaan Keterampilan Belajar Siswa Berprestasi Tinggi Dan Berprestasi Rendah Serta Implikasinya Dalam Bimbingan Dan Konseling. dalam Jurnal Konseling, 167-173.
Rosmawaty. (2013). Mengenal Ilmu Komunikasi: Penerbit Widya Padjajaran
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Budiarjo, Lily. (2007). Keterampilan Belajar. Yogyakarta: Penerbit And
Buzan, Tony. (2009). Mind Map Untuk Meningkatkan Kreativitas (alih bahasa:Eric Suryaputra). Jakarta: Gramedia.
Dalyono, M. (1997). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Das, Irsyad dan Elfi. 2004. Belajar Untuk Belajar. Bukittinggi: Usaha Ikhlas.
Gie T. L. (1995). Cara Belajar yang Efisien: Sebuah Buku Pegangan untuk Mahasiswa Indonesia (jilid 2). Yogyakarta: Liberty
Sardiman A. M. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar-mengajar. Jakarta: Raja Grafindo
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Surya, Hendra. (2011). Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar. Jakarta: Grasindo
JURNAL KOMUNIKASI KONSELING
Srie Wahyuni. P, Dina. S. (2013). Komunikasi Interpersonal Antar Siswa Di Sekolah Dan Implikasinya Terhadap Pelayanan Bimbingan Dan Konseling : Jurnal Komunikasi Konseling Vol. 2 No. 1.
Identifiasi dalam jurnal ini menunjukan bahwa berdasarkan hasil pengamatan pada tanggal 22 Maret 2011 terjadi pada saat siswa berkomunikasi dengan teman sebayanya. Mereka cenderung mengeluarkan katakata kurang baik yang disebabkan terkena pukulan buku pada bahu sebelah kiri oleh lawan bicaranya. Akibat dari sikap yang seperti itu, terjadi suatu perselisihan dan perkelahian oleh kedua siswa tersebut. Berdasarkan permasalahan ini maka fokus dalam pe-nelitian ini adalah komunikasi inter-personal antar siswa di SMA Adabiah 2 Padang yang dilihat dari segi keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsi-kan atau menggambarkan komunikasi interpersonal antar siswa di SMA Adabiah 2 Padang. Dan untuk mengetahui bagaimana komunikasi yang seharusnya dilakukan siswa SMA. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI yang ada di SMA Adabiah 2 Padang yang berjumlah sebanyak 87 orang.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik penarikan sampel yaitu teknik proportional stratified random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket yang diolah dengan teknik persentase.
Variabel yang digunakan dalam jurnal ini ada beberapa macam yaitu variabel keterbukaan, variabel empati, variabel sikap mendukung Kemudian berdasarkan hasil data pada variabel sikap mendukung, dan variabel kesetaraan. Bukti pendukung dari variabel tersebut dapat dilihat dari hasil penelitiannya.
Berdasarkan hasil temuan pe-nelitian ini terungkap bahwa komunikasi inter-personal antar siswa SMA di Adabiah 2 Padang menunjukkan hasil yang baik bila dibandingkan dengan sebelum di-adakan penelitian. Hai ini dapat ditinjau dari hasil data secara keseluruhan melalui aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan kesetaraan yang menunjukkan komunikasi interpersonal antar siswa berada pada baik. Pertama, keterbukaan Antar Siswa dalam Berkomunikasi Interpersonal. Hal ini seiring dengan pendapat DeVito (2011:286) Komunikator antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang lain yang diajaknya berinteraksi. Kedua, empati Antar Siswa dalam Berkomunikasi Interpersonal. Seperti menurut M. Surya (2003:124) mengungkapkan seseorang yang memiliki kemampuan empati yang baik mampu memahami orang lain, baik yang nampak maupun yang terkandung khususnya dalam pe-rasaan, pikiran, dam keinginan orang lain sedekat mungkin. Ketiga, Sikap Mendukung Antar Siswa dalam Berkomunikasi Interpersonal yang mengacu pada teori DeVito (2011:28-289) memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap antara lain: deskriptif, spontanitas, dan provisionalisme. Keempat, Sikap Positif Antar Siswa dalam Berkomunikasi Interpersonal seperti menurut DeVito (2011:290) mengungkapkan sikap positif dapat dijelaskan lebih jauh dengan istilah stroking (dorongan). Kelima, Kesetaraan Antar Siswa dalam Berkomunikasi Interpersonal. Hal ini tercermin dari pandangan DeVito (2011:290) komunikasi antar-pribadi akan lebih efektif bila suasananya setara yang artinya harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang paling penting untuk disumbangkan.
Kemudian ada juga Implikasi terhadap Pelayanan Bim-bingan dan Konseling. Setelah hasil penelitian me-nunjukkan bahwa komunikasi inter-personal antar siswa telah tergolong pada kategori baik. Namun masih ada sebagian kecil komunikasi interpersonal antar siswa masih tergolong tidak baik. Melalui pelayanan bimbingan dan konseling ini, dapat meningkatkan komunikasi inter-personal antar siswa ke arah yang baik. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian layanan informasi dan layanan bimbingan kelompok, antara lain: Pertama, Layanan Informasi. Menurut Prayitno dan Erman Amti (1994:35) Layanan informasi adalah layanan yang memungkinkan individu menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan individu tersebut, untuk pemecahan masalah, mencegah timbulnya masalah dan untuk mengembangkan dan memelihara potensi yang ada. Kedua, Layanan Bimbingan Kelompok. Seiring dengan pendapat Samsul Munir Amin (2010: 290) bim-bingan kelompok adalah layanan Bim-bingan.
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal antar siswa berada pada kategori baik.
Berdasarkan jurnal yang telah dibaca anoter, jika kita menginginkan suatu komunikasi yang baik maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan yaitu diantaranya kita tidak boleh menggunakan kontak fisik yang nantinya akan membuat lawan bicara kita menjadi kesal ataupun marah. Keduanya harus saling berhadapan agar keduanya merasa saling dihargai. Lalu kita juga harus menghindari sikap – sikap yang tidak disukai oleh lawan bicara seperti yang diungkapkan DeVito (2011:28-289) memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap antara lain: deskriptif, spontanitas, dan provisionalisme. Atau Menurut Jalaluddin Rakhmat (2007:129) mengatakan bahwa pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Faktorfaktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah: 1) percaya; 2) sikap sportif, 3) sikap terbuka. Disini juga peran Guru BK sangat diperlukan yaitu untuk menasihati bagaimana cara berperilaku yang baik ketika kita sedang berbicara dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Wahyuni, Srie, & Dina Sukma. (2013). Komunikasi Interpersonal Antar Siswa Di Sekolah Dan Implikasinya Terhadap Pelayanan Bimbingan Dan Konseling : Jurnal Komunikasi Konseling : dalam jurnal Komunikasi Konseling, 324-329.
Rosmawaty. (2013). Mengenal Ilmu Komunikasi: Penerbit Widya Padjajaran
Alo Liliweri. (1997). Komunikasi Antar-pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti
DeVito (Alih Bahasa: Ir. Maulana M.S.M). (2011). Komunikasi Antar Manusia. Tanggerang Selatan: Karisma Publishing Group
Jalaluddin Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Miftah Thoha. (2002). Perilaku Organisasi: Kajian Teoritis dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.
Muhammad Surya. (2003). Psikologi Konseling. Bandung. Pustaka Bani Quraisy.